Yogyakarta – Gelaran “Pesona Widya 2025” di Pasraman Widya Dharma menjadi panggung seni yang sarat pesan toleransi dan keberagaman. Acara ini menampilkan puluhan anak-anak yang membawakan tarian tradisional dan Krida Yoga sebagai hasil dari pembelajaran rutin mingguan mereka, Minggu (16/11).
Keistimewaan acara ini terletak pada sikap inklusifnya. Pasraman Widya Dharma secara tegas terbuka untuk semua kalangan, termasuk non-Hindu, menjadikan kegiatan ini sebagai praktik nyata peneguhan toleransi dan bukan sekadar slogan.
Kegiatan seni dan budaya seperti tari Bali, tari Jawa, yoga, dan kerawitan secara rutin digunakan sebagai sarana pembinaan karakter dan kesehatan holistik. Pengelola pasraman menyatakan bahwa lembaga ini berpegang pada prinsip moderasi beragama dengan merawat keberagaman sejak dini melalui tindakan konkret.
Acara yang dihadiri oleh tokoh-tokoh agama dan masyarakat DIY ini mendapat apresiasi karena mampu menjadikan budaya sebagai sarana pemersatu. Salah satu tokoh masyarakat yang hadir menyebutkan seni adalah bahasa universal. “Di sinilah toleransi menemukan bentuknya,” katanya. *








